Berkomunikasi di masyarakat memerlukan cara dan etika yang
benar agar pesan yang terkandung dalam bahasan saat melakukan interaksi dapat
tersampaikan dengan baik dan jelas tanpa adanya ambiguitas. Public speaking adalah istilah yang
sering muncul dalam bidang komunikasi. Public speaking adalah bentuk komunikasi
lisan tentang sesuatu hal atau topik yang disampaikan banyak orang. Tujuannya
untuk mempengaruhi, mengubah opini, mengajar, mendidik, memberikan penjelasan serrta
memberikan informasi kepada masyarakat tertentu pada suatu tempat tertentu.
(Gunandi, Himpunan Istilah Komunikasi, 1998).
Berbicara merupakan kebutuhan tiap orang. Karena tulisan
saja tidak cukup mewakili yang ingin kita sampaikan, maka kemampuan berbicara
menjadi sangat penting. Hal ini dikarenakan dapat menguatkan makna dari tulisan
yang sederhana.
Menurut webster’s Third
New International Citionary, public speaking adalah:
1.
The act of process of making speeches in
public
2.
The art of science of effective oral
communication with an audience.
Menurut
David Zarefsky, dalam Public Speaking Strategic for Success; “Public speaking
is a continuous communication process in which messages and signals circulate
back and forth between speaker and listeners.” Mudahnya dapat diartikan: Public
Speaking adalah sebuah proses komunikasi berkelanjutan, di mana pesan, simbol
(komunikasi) (dan makna, ed; tambahan penulis) terus berinteraksi, antara
pembicara dan para pendengarnya.
Sedangkan
menurut Ys. Gunadi dalam Himpunan Istilah Komunikasi: Public Speaking adalah
sebuah bentuk komunikasi yang dilakukan secara lisan tentang suatu hal atau
topik di hadapan banyak orang. Tujuannya adalah untuk mempengaruhi, mengubah
opini, mengajar, mendidik, memberikan penjelasan serta memberikan informasi
kepada masyarakat tertentu pada suatu tempat tertentu.
Karena
sifatnya yang dinamis, maka Public Speaking juga dapat diartikan sebagai sebuah
aktivitas yang sangat dekat dengan asosiasi kata perubahan (change). Melalui
Public Speaking, kita dapat mengetahui pola pemikiran dari seseorang,
mengetahui gagasan masa depan seseorang, dan ide-ide luar biasanya. Kita juga
dapat mengetahui perubahan seperti apa yang digagas atau direncanakan
seseorang.
Sejak
kecil hingga dewasa kita pasti akan terlibat dalam suatu situasi yang
mengharuskan berbicara di depan umum atau khlayak ramai. Seperti saat di
sekolah, kita pasti akan memperkenalkan diri di depan kelas, saat melakukan presentasi
dan bahkan memimpin suatu rapat atau musyawarah. Namun powerful public speaking tidak sekedar berbicara menyampaikan
sesuatu di depan orang banyak, dalam powerful
speaking, kata - kata yang terucap harus tertata dan teratur. Isi
pembicaraan harus mampu memberikan kontribusi terhadap perubahan emosi,
tindakan dan sikap. Intinya mampu membuat orang orang yang mendengarkan
bergerak dan beranjak mengikuti petunjuk pembicara. Ada begitu banyak teknik
dan aturan saat memberikan motivasi, pengaruh, bujukan, dan arahan kepada
orang-orang. Tujuannya untuk menyentuh sisi think,
feel dan act.
Public
Speaking merupakan sebuah rumpun keluarga Ilmu Komunikasi (Retorika) yang
mencakup berdiskusi, berdebat, pidato, memimpin rapat, moderator, MC, dan
presenter serta kemampuan seseorang untuk dapat berbicara di depan publik,
kelompok maupun perseorangan yang perlu menggunakan strategi dan teknik
berbicara yang tepat.
Peran Public Speaking dalam Kehidupan
Sehari-Hari
1.
Mengembangkan diri pribadi
Bila
kita dapat melakukan PS kita tidak perlu ketakutan setiap kali menghadapi
kemungkinan diminta berbicara di depan orang banyak, baik di dunia kerja
ataupun di lingkungan keluarga. Kita juga dapat menyampaikan ide kita kepada
orang lain secara lebih efektif hingga memberi kepuasan bahwa ide kita diterima
atau diterapkan. Saat ini banyak perusahaan yang meminta pelamar kerja untuk
membuat proposal program kerja yang akan dilakukan lalu mempresentasikannya. Ide
yang telah dituangkan dalam sebuah proposal akan terdengar menarik atau tidak
tergantung dari bagaimana pembicara mempresentasikannya. Dapat dipastikan
pelamar yang dapat mempresentasikan idenya dengan baik yang akan diterima
bekerja. Semakin banyak kita berlatih maka semakin baik kita mempresentasikan
ide di depan orang lain. Kita pun akan semakin percaya diri karena ide kita
lebih sering didengar dan diterima orang.
2.
Mempengaruhi dunia sekitar kita
Perubahan
yang terjadi di masyarakat sering kali berawal dari ide satu orang yang
ditularkan kepada orang-orang lain. Bila kita memiliki keterampilan PS maka
kita akan lebih mudah dapat mempengaruhi orang-orang lain supaya menerima dan
melaksanakan ide kita, yang menghasilkan perubahan kelompok tersebut. Dalam
skala kecil perubahan tersebut dapat berupa ide menggalang warga lingkungan
untuk melakukan kegiatan kebersihan bersama. Dalam skala lebih besar, perubahan
dapat terjadi pada komunitas yang lebih besar. Beberapa komunitas di
Yogyakarta, warga menentukan adanya jam belajar bagi anak. Pada jam belajar
tersebut keluarga dilarang menyalakan televise dan anak diwajibkan untuk
belajar. Keluarga yang melanggar akan ditegur tetangganya sendiri sebagai
bentuk kontrol sosial. Perubahan tersebut berawal dari sebuah ide yang
ditularkan kepada satu komunitas, lalu menginspirasi komunitas-komunitas lain
yang menganggap ide ini baik untuk mereka.
3.
Meningkatkan karier
Kemampuan
mempengaruhi orang lain, termasuk atasan, dapat membuat kerja kita berlangsung
lebih baik. Bahkan bila rekan kerja dan atasan melihat kita terampil berbicara
di orang-orang lain, mereka akan melihat kita sebagai orang yang memiliki
kredibilitas tinggi hingga kesempatan promosi lebih terbuka lebar.
Sejarah
Public Speaking
Public speaking
sebagai retorika, seni berbicara secara efektif, telah ada sejak awal peradaban
manusia. Walau tidak dapat menyebutkan tahunnya dengan pasti, beberapa temuan
dari masa peradaban kuno memperlihatkan keberadaan public speaking dalam
masyarakat mereka. William Hallo menelusuri bahwa retorika telah tercatat di
Mesopotamia Kuno (yang sekarang menjadi lokasi negara Irak) sekitar 2285 tahun
sebelum masehi (SM), dibuktikan dengan dokumentasi cerita mengenai para raja
dan pendeta yang diukir di atas batu (Binkley & Lipson, 2004: 3). Bukti
lain keberadaan retorika juga dapat dilihat pada peninggalan Mesir Kuno,
sekitar 2080 tahun sebelum masehi, berupa tulisan tentang aturan retorika
(Hutto, 2002: 213). Aturan tersebut menyatakan bahwa “tahu kapan harus diam”
adalah pengetahuan yang penting dalam retorika. Orang Mesir Kuno berpendapat
bahwa menjaga keseimbangan antara kefasihan berbicara dengan kebijakan untuk
diam adalah sebuah hal yang penting.
Retorika
juga dapat dilacak sampai ke Daratan Cina pada ajaran Konfusius, filsuf Cina
yang ajarannya berkembang menjadi agama Konghucu, yang menekankan pentingnya
kefasihan dalam berbicara. Sejarah retorika yang paling terkenal praktik public
speaking dalam bentuk retorika telah banyak diterapkan dalam masyarakat Yunani
Kuno. Pada masa itu keputusan yang menyangkut masyarakat diambil dalam sebuah
rapat besar yang dihadiri para warga polis, kotakota di Yunani yang biasanya
dikelilingi oleh tembok benteng. Orang yang berhak hadir dalam rapat tersebut
dan memberi pendapat adalah warga polis yang tercatat secara hukum sebagai
warga bebas, bukan budak maupun tahanan. Perubahan politik dari bentuk kerajaan
menjadi bentuk demokrasi pada masa itu memang sangat mendorong kebebasan
berbicara. Karena itu, kemampuan berbicara di depan umum menjadi penting untuk
mempengaruhi keputusan-keputusan yang diambil dalam rapat atau pertemuan
politik. Praktik retorika juga terlihat di pengadilan Yunani kuno. Kedua pihak
yang bertikai saling melemparkan argumen untuk mempengaruhi keputusan hakim dan
juri untuk memenangkan mereka. Selain itu, para pemikir Yunani Kuno biasanya
menyampaikan pemikiran mereka di depan publik dalam kompetisi mencapai
kemasyhuran atau pengaruh politik. Kata retorika yang kita kenal didapat kata
Yunani “rhetorike”, yang melingkupi teori dan praktik berpidato di depan publik
(Herrick, 2001: 34).
Tiga Unsur Persuasif
Aristoteles
merupakan pelopor ilmu seni berbicara. Beliau mengidentifikasi unsur-unsur
dasar pidato persuasif sebagai berikut:
1. Ethos
(Kredibilitas, kepercayaan pembicara)
2. Logos
(Logika disampaikan dengan valid dan jelas)
3. Pathos
(Daya tarik emosional audience atau kemampuan untuk menghubungkan antara
audience dengan pembicara)
Ethos
berkaitan dengan karakter, kelayakan dan tingkat kepercayaan pada pembicara.
Dengan meningkatkan kepercayaan, audience akan lebih menerima pendapat, arahan
serta mau bertindak sesuai rekomendasi pembicara.
Logos
merupakan logika, alasan terhadap argumen ide yang disampaikan oleh pembicara.
Perlu adanya penyusunan informasi yang tepat dari pembukaan sampai kesimpulan.
Supaya pesan dapat diterima oleh audience, sertakan informasi, fakta dan logika
yang relevan.
Pahtos
berisi tentang masalah emosi. Bangunlah hubungan secara emosional supaya
audience tetap fokus kepada inti pembicaraan. Jika hubungan emosional ini
sudah terbentuk dengan baik, audience dapat dengan mudah termotivasi dan
take action. Pembicara yang powerful
menggunakan unsur ini menyampaikan gagasan.
Perkembangan Public Speaking Setelah
Era Yunani Kuno
Perkembangan kebudayaan dan perdagangan Yunani Kuno menyebabkan
pemikiran dan ajaran retorika ini menyebar ke berbagai penjuru kota-kota
lainnya. Saat Romawi menjajah Yunani, pemikiran ini diadopsi oleh masyarakat
Romawi dan disebarluaskan bersamaan dengan ekspansi kerajaan Romawi ke seluruh
dunia, terutama Eropa. Pada abad pertengahan (mengacu pada abad ke-5 sampai 15
di Eropa), retorika diajarkan di universitas-universitas di Eropa sebagai
pelajaran pokok, bersama dengan logika dan struktur bahasa. Kebangkitan monarki
Eropa menyebabkan kebebasan berbicara di depan publik berkurang, mendorong
pemanfaatan retorika terbatas dalam upacara keagamaan serta penyebaran agama
Kristen di Eropa. Retorika dipelajari oleh lembaga – lembaga agama karena keterampilan
ini bermanfaat dalam menyebarluaskan ajaran agama ke berbagai wilayah. Perkembangan
seni dan budaya, serta sistem negara yang tidak demokratis, mendorong pemikiran
atau ide dituangkan tidak dalam bentuk retorika tutur (seni berbicara lisan)
seperti pidato politik, melainkan dalam bentuk tulisan berupa cerita, puisi,
surat-surat korespondensi, atau bahkan lukisan. Struktur berpikir serta keterampilan
memilih kata yang banyak dimanfaatkan dalam retorika lisan juga ternyata sangat
bermanfaat bagi retorika tertulis pada abad pertengahan tersebut. Perkembangan
ilmu pengetahuan juga mendorong penggunaan retorika untuk menyebarkan ilmu
tersebut. Namun berbeda dengan retorika klasik Yunani yang penuh gaya, retorika
ilmu pengetahuan menggunakan Bahasa yang lugas, menekankan pada fakta, serta
tidak banyak memakai metafora. Keindahan retorika tidaklah penting, yang penting
adalah isi keilmuannya. Pada abad 18 dan 19, beragam klub debat dan diskusi
bermunculan di Eropa dan di Amerika sehingga kemampuan berbicara di depan
public kembali berkembang di kalangan masyarakat awam, bukan hanya kaum bangsawan
atau rohaniwan.
Revolusi
Kemerdekaan di Amerika Utara (berlangsung
dari 1775 sampai 1777 yang menghasilkan negara Amerika Serikat) dan Revolusi
Prancis di Eropa (berlangsung pada 1789-1799 mendorong berakhirnya bentuk
kerajaan di Prancis) menginspirasi perubahan sistem politik di berbagai negara
di Eropa dan Amerika. Pertumbuhan system politik demokrasi kembali mendorong
berkembangnya praktik public speaking, seperti yang terjadi pada masa Yunani
Kuno. Mereka yang mempelajari public speaking pada masa itu kembali belajar tentang
berbagai hukum retorika yang diidentifikasi Cicero dan tokoh retorika lainnya.
Studi terhadap public speaking mulai dilakukan di beberapa universitas
terkenal, seperti Universitas Harvard di Amerika Serikat. Pada abad 20 dan 21
retorika dan public speaking berkembang menjadi mata kuliah atau mata pelajaran
yang diberikan di sekolah menengah atau di universitas. Prinsip-prinsip yang
diajarkan sejak masa Yunani Kuno seperti ethos/etika, logos/logika, dan
pathos/emosi masih diajarkan sampai sekarang, dengan penyesuaian dengan kondisi
jaman.
Reputasi
public speaking semakin tumbuh setelah munculnya Ilmu Komunikasi yang diajarkan
di berbagai universitas. Public speaking semakin berkembang dalam bidang pemasaran,
periklanan, politik, dan literatur. Perkembangan media komunikasi saat ini juga
menuntut penyesuaian dalam public speaking. Keberagaman budaya masyarakat
dunia, kemudahan menjangkau orang-orang di bagian dunia mana pun, serta
pertumbuhan teknologi mengubah wajah public speaking saat ini. Istilah publik
dalam public speaking juga berkembang tidak hanya mengacu pada orang-orangyang
kita temui secara langsung, dalam sebuah ruangan yang sama, seperti praktik
public speaking konvensional. Publik dalam public speaking modern juga dapat
meluas menjadi mereka yang mendengarkan pesan kita melalui media seperti radio,
televisi, bahkan internet. Saat melakukan public speaking dengan media radio, gerak
tubuh tidaklah penting, yang penting adalah pilihan kata, intonasi,
cepat-lambat pengucapan, dan sebagainya. Saat menggunakan media televisi
pandangan mata menjadi penting. Publik yang menonton televisi ingin supaya
pembicara sedang bercakap-cakap langsung dengan mereka. Karena itu, pembicara
sering dianjurkan untuk memandang langsung ke kamera seakan sedang menatap mata
orang ia ajak bicara, seperti yang sering kita lakukan dalam percakapan tatap
muka. Internet memungkinkan PS yang kita lakukan dilihat oleh orang-orang dari
berbagai belahan dunia tanpa dibatasi oleh waktu karena data PS kita terekam
dalam ruang penyimpanan komputer.
Referensi:
http://www.pustaka.ut.ac.id/lib/wp-content/uploads/pdfmk/SKOM4312-M1.pdf
No comments:
Post a Comment