Wednesday, 27 March 2019

PUBLIC SPEAKING



            Berkomunikasi di masyarakat memerlukan cara dan etika yang benar agar pesan yang terkandung dalam bahasan saat melakukan interaksi dapat tersampaikan dengan baik dan jelas tanpa adanya ambiguitas. Public speaking adalah istilah yang sering muncul dalam bidang komunikasi. Public speaking adalah bentuk komunikasi lisan tentang sesuatu hal atau topik yang disampaikan banyak orang. Tujuannya untuk mempengaruhi, mengubah opini, mengajar, mendidik, memberikan penjelasan serrta memberikan informasi kepada masyarakat tertentu pada suatu tempat tertentu. (Gunandi, Himpunan Istilah Komunikasi, 1998).
            Berbicara merupakan kebutuhan tiap orang. Karena tulisan saja tidak cukup mewakili yang ingin kita sampaikan, maka kemampuan berbicara menjadi sangat penting. Hal ini dikarenakan dapat menguatkan makna dari tulisan yang sederhana.
Menurut webster’s Third New International Citionary, public speaking adalah:
1.      The act of process of making speeches in public
2.      The art of science of effective oral communication with an audience.

Menurut David Zarefsky, dalam Public Speaking Strategic for Success; “Public speaking is a continuous communication process in which messages and signals circulate back and forth between speaker and listeners.” Mudahnya dapat diartikan: Public Speaking adalah sebuah proses komunikasi berkelanjutan, di mana pesan, simbol (komunikasi) (dan makna, ed; tambahan penulis) terus berinteraksi, antara pembicara dan para pendengarnya.
Sedangkan menurut Ys. Gunadi dalam Himpunan Istilah Komunikasi: Public Speaking adalah sebuah bentuk komunikasi yang dilakukan secara lisan tentang suatu hal atau topik di hadapan banyak orang. Tujuannya adalah untuk mempengaruhi, mengubah opini, mengajar, mendidik, memberikan penjelasan serta memberikan informasi kepada masyarakat tertentu pada suatu tempat tertentu.
Karena sifatnya yang dinamis, maka Public Speaking juga dapat diartikan sebagai sebuah aktivitas yang sangat dekat dengan asosiasi kata perubahan (change). Melalui Public Speaking, kita dapat mengetahui pola pemikiran dari seseorang, mengetahui gagasan masa depan seseorang, dan ide-ide luar biasanya. Kita juga dapat mengetahui perubahan seperti apa yang digagas atau direncanakan seseorang.
Sejak kecil hingga dewasa kita pasti akan terlibat dalam suatu situasi yang mengharuskan berbicara di depan umum atau khlayak ramai. Seperti saat di sekolah, kita pasti akan memperkenalkan diri di depan kelas, saat melakukan presentasi dan bahkan memimpin suatu rapat atau musyawarah. Namun powerful public speaking tidak sekedar berbicara menyampaikan sesuatu di depan orang banyak, dalam powerful speaking, kata - kata yang terucap harus tertata dan teratur. Isi pembicaraan harus mampu memberikan kontribusi terhadap perubahan emosi, tindakan dan sikap. Intinya mampu membuat orang orang yang mendengarkan bergerak dan beranjak mengikuti petunjuk pembicara. Ada begitu banyak teknik dan aturan saat memberikan motivasi, pengaruh, bujukan, dan arahan kepada orang-orang. Tujuannya untuk menyentuh sisi think, feel dan act.
Public Speaking merupakan sebuah rumpun keluarga Ilmu Komunikasi (Retorika) yang mencakup berdiskusi, berdebat, pidato, memimpin rapat, moderator, MC, dan presenter serta kemampuan seseorang untuk dapat berbicara di depan publik, kelompok maupun perseorangan yang perlu menggunakan strategi dan teknik berbicara yang tepat.

Peran Public Speaking dalam Kehidupan Sehari-Hari
1. Mengembangkan diri pribadi
Bila kita dapat melakukan PS kita tidak perlu ketakutan setiap kali menghadapi kemungkinan diminta berbicara di depan orang banyak, baik di dunia kerja ataupun di lingkungan keluarga. Kita juga dapat menyampaikan ide kita kepada orang lain secara lebih efektif hingga memberi kepuasan bahwa ide kita diterima atau diterapkan. Saat ini banyak perusahaan yang meminta pelamar kerja untuk membuat proposal program kerja yang akan dilakukan lalu mempresentasikannya. Ide yang telah dituangkan dalam sebuah proposal akan terdengar menarik atau tidak tergantung dari bagaimana pembicara mempresentasikannya. Dapat dipastikan pelamar yang dapat mempresentasikan idenya dengan baik yang akan diterima bekerja. Semakin banyak kita berlatih maka semakin baik kita mempresentasikan ide di depan orang lain. Kita pun akan semakin percaya diri karena ide kita lebih sering didengar dan diterima orang.


2. Mempengaruhi dunia sekitar kita
Perubahan yang terjadi di masyarakat sering kali berawal dari ide satu orang yang ditularkan kepada orang-orang lain. Bila kita memiliki keterampilan PS maka kita akan lebih mudah dapat mempengaruhi orang-orang lain supaya menerima dan melaksanakan ide kita, yang menghasilkan perubahan kelompok tersebut. Dalam skala kecil perubahan tersebut dapat berupa ide menggalang warga lingkungan untuk melakukan kegiatan kebersihan bersama. Dalam skala lebih besar, perubahan dapat terjadi pada komunitas yang lebih besar. Beberapa komunitas di Yogyakarta, warga menentukan adanya jam belajar bagi anak. Pada jam belajar tersebut keluarga dilarang menyalakan televise dan anak diwajibkan untuk belajar. Keluarga yang melanggar akan ditegur tetangganya sendiri sebagai bentuk kontrol sosial. Perubahan tersebut berawal dari sebuah ide yang ditularkan kepada satu komunitas, lalu menginspirasi komunitas-komunitas lain yang menganggap ide ini baik untuk mereka.
3.      Meningkatkan karier
Kemampuan mempengaruhi orang lain, termasuk atasan, dapat membuat kerja kita berlangsung lebih baik. Bahkan bila rekan kerja dan atasan melihat kita terampil berbicara di orang-orang lain, mereka akan melihat kita sebagai orang yang memiliki kredibilitas tinggi hingga kesempatan promosi lebih terbuka lebar.
Sejarah Public Speaking
            Public speaking sebagai retorika, seni berbicara secara efektif, telah ada sejak awal peradaban manusia. Walau tidak dapat menyebutkan tahunnya dengan pasti, beberapa temuan dari masa peradaban kuno memperlihatkan keberadaan public speaking dalam masyarakat mereka. William Hallo menelusuri bahwa retorika telah tercatat di Mesopotamia Kuno (yang sekarang menjadi lokasi negara Irak) sekitar 2285 tahun sebelum masehi (SM), dibuktikan dengan dokumentasi cerita mengenai para raja dan pendeta yang diukir di atas batu (Binkley & Lipson, 2004: 3). Bukti lain keberadaan retorika juga dapat dilihat pada peninggalan Mesir Kuno, sekitar 2080 tahun sebelum masehi, berupa tulisan tentang aturan retorika (Hutto, 2002: 213). Aturan tersebut menyatakan bahwa “tahu kapan harus diam” adalah pengetahuan yang penting dalam retorika. Orang Mesir Kuno berpendapat bahwa menjaga keseimbangan antara kefasihan berbicara dengan kebijakan untuk diam adalah sebuah hal yang penting.
Retorika juga dapat dilacak sampai ke Daratan Cina pada ajaran Konfusius, filsuf Cina yang ajarannya berkembang menjadi agama Konghucu, yang menekankan pentingnya kefasihan dalam berbicara. Sejarah retorika yang paling terkenal praktik public speaking dalam bentuk retorika telah banyak diterapkan dalam masyarakat Yunani Kuno. Pada masa itu keputusan yang menyangkut masyarakat diambil dalam sebuah rapat besar yang dihadiri para warga polis, kotakota di Yunani yang biasanya dikelilingi oleh tembok benteng. Orang yang berhak hadir dalam rapat tersebut dan memberi pendapat adalah warga polis yang tercatat secara hukum sebagai warga bebas, bukan budak maupun tahanan. Perubahan politik dari bentuk kerajaan menjadi bentuk demokrasi pada masa itu memang sangat mendorong kebebasan berbicara. Karena itu, kemampuan berbicara di depan umum menjadi penting untuk mempengaruhi keputusan-keputusan yang diambil dalam rapat atau pertemuan politik. Praktik retorika juga terlihat di pengadilan Yunani kuno. Kedua pihak yang bertikai saling melemparkan argumen untuk mempengaruhi keputusan hakim dan juri untuk memenangkan mereka. Selain itu, para pemikir Yunani Kuno biasanya menyampaikan pemikiran mereka di depan publik dalam kompetisi mencapai kemasyhuran atau pengaruh politik. Kata retorika yang kita kenal didapat kata Yunani “rhetorike”, yang melingkupi teori dan praktik berpidato di depan publik (Herrick, 2001: 34).
Tiga Unsur Persuasif
Aristoteles merupakan pelopor ilmu seni berbicara. Beliau mengidentifikasi unsur-unsur dasar pidato persuasif sebagai berikut:
1.      Ethos (Kredibilitas, kepercayaan pembicara)
2.      Logos (Logika disampaikan dengan valid dan jelas)
3.      Pathos (Daya tarik emosional audience atau kemampuan untuk menghubungkan antara audience dengan pembicara)
Ethos berkaitan dengan karakter, kelayakan dan tingkat kepercayaan pada pembicara. Dengan meningkatkan kepercayaan, audience akan lebih menerima pendapat, arahan serta mau bertindak sesuai rekomendasi pembicara.
Logos merupakan logika, alasan terhadap argumen ide yang disampaikan oleh pembicara. Perlu adanya penyusunan informasi yang tepat dari pembukaan sampai kesimpulan. Supaya pesan dapat diterima oleh audience, sertakan informasi, fakta dan logika yang relevan.
Pahtos berisi tentang masalah emosi. Bangunlah hubungan secara emosional supaya audience tetap fokus kepada inti pembicaraan. Jika hubungan emosional  ini  sudah terbentuk dengan baik, audience dapat dengan mudah termotivasi dan take action.  Pembicara yang powerful menggunakan unsur ini menyampaikan gagasan.
Perkembangan Public Speaking Setelah Era Yunani Kuno
            Perkembangan kebudayaan dan perdagangan Yunani Kuno menyebabkan pemikiran dan ajaran retorika ini menyebar ke berbagai penjuru kota-kota lainnya. Saat Romawi menjajah Yunani, pemikiran ini diadopsi oleh masyarakat Romawi dan disebarluaskan bersamaan dengan ekspansi kerajaan Romawi ke seluruh dunia, terutama Eropa. Pada abad pertengahan (mengacu pada abad ke-5 sampai 15 di Eropa), retorika diajarkan di universitas-universitas di Eropa sebagai pelajaran pokok, bersama dengan logika dan struktur bahasa. Kebangkitan monarki Eropa menyebabkan kebebasan berbicara di depan publik berkurang, mendorong pemanfaatan retorika terbatas dalam upacara keagamaan serta penyebaran agama Kristen di Eropa. Retorika dipelajari oleh lembaga – lembaga agama karena keterampilan ini bermanfaat dalam menyebarluaskan ajaran agama ke berbagai wilayah. Perkembangan seni dan budaya, serta sistem negara yang tidak demokratis, mendorong pemikiran atau ide dituangkan tidak dalam bentuk retorika tutur (seni berbicara lisan) seperti pidato politik, melainkan dalam bentuk tulisan berupa cerita, puisi, surat-surat korespondensi, atau bahkan lukisan. Struktur berpikir serta keterampilan memilih kata yang banyak dimanfaatkan dalam retorika lisan juga ternyata sangat bermanfaat bagi retorika tertulis pada abad pertengahan tersebut. Perkembangan ilmu pengetahuan juga mendorong penggunaan retorika untuk menyebarkan ilmu tersebut. Namun berbeda dengan retorika klasik Yunani yang penuh gaya, retorika ilmu pengetahuan menggunakan Bahasa yang lugas, menekankan pada fakta, serta tidak banyak memakai metafora. Keindahan retorika tidaklah penting, yang penting adalah isi keilmuannya. Pada abad 18 dan 19, beragam klub debat dan diskusi bermunculan di Eropa dan di Amerika sehingga kemampuan berbicara di depan public kembali berkembang di kalangan masyarakat awam, bukan hanya kaum bangsawan atau rohaniwan.
Revolusi Kemerdekaan di Amerika Utara (berlangsung dari 1775 sampai 1777 yang menghasilkan negara Amerika Serikat) dan Revolusi Prancis di Eropa (berlangsung pada 1789-1799 mendorong berakhirnya bentuk kerajaan di Prancis) menginspirasi perubahan sistem politik di berbagai negara di Eropa dan Amerika. Pertumbuhan system politik demokrasi kembali mendorong berkembangnya praktik public speaking, seperti yang terjadi pada masa Yunani Kuno. Mereka yang mempelajari public speaking pada masa itu kembali belajar tentang berbagai hukum retorika yang diidentifikasi Cicero dan tokoh retorika lainnya. Studi terhadap public speaking mulai dilakukan di beberapa universitas terkenal, seperti Universitas Harvard di Amerika Serikat. Pada abad 20 dan 21 retorika dan public speaking berkembang menjadi mata kuliah atau mata pelajaran yang diberikan di sekolah menengah atau di universitas. Prinsip-prinsip yang diajarkan sejak masa Yunani Kuno seperti ethos/etika, logos/logika, dan pathos/emosi masih diajarkan sampai sekarang, dengan penyesuaian dengan kondisi jaman.
Reputasi public speaking semakin tumbuh setelah munculnya Ilmu Komunikasi yang diajarkan di berbagai universitas. Public speaking semakin berkembang dalam bidang pemasaran, periklanan, politik, dan literatur. Perkembangan media komunikasi saat ini juga menuntut penyesuaian dalam public speaking. Keberagaman budaya masyarakat dunia, kemudahan menjangkau orang-orang di bagian dunia mana pun, serta pertumbuhan teknologi mengubah wajah public speaking saat ini. Istilah publik dalam public speaking juga berkembang tidak hanya mengacu pada orang-orangyang kita temui secara langsung, dalam sebuah ruangan yang sama, seperti praktik public speaking konvensional. Publik dalam public speaking modern juga dapat meluas menjadi mereka yang mendengarkan pesan kita melalui media seperti radio, televisi, bahkan internet. Saat melakukan public speaking dengan media radio, gerak tubuh tidaklah penting, yang penting adalah pilihan kata, intonasi, cepat-lambat pengucapan, dan sebagainya. Saat menggunakan media televisi pandangan mata menjadi penting. Publik yang menonton televisi ingin supaya pembicara sedang bercakap-cakap langsung dengan mereka. Karena itu, pembicara sering dianjurkan untuk memandang langsung ke kamera seakan sedang menatap mata orang ia ajak bicara, seperti yang sering kita lakukan dalam percakapan tatap muka. Internet memungkinkan PS yang kita lakukan dilihat oleh orang-orang dari berbagai belahan dunia tanpa dibatasi oleh waktu karena data PS kita terekam dalam ruang penyimpanan komputer.

Referensi:
http://www.pustaka.ut.ac.id/lib/wp-content/uploads/pdfmk/SKOM4312-M1.pdf

No comments:

Post a Comment